Selasa, 16 November 2010

Apa itu LINUX?

Linux adalah Unix clone, kernel nya ditulis oleh Linus Torvalds dan dikembangkan dengan bantuan programer dan hackers dari seluruh dunia
Linux memiliki semua feature yang dimiliki oleh Unix, termasuk multitasking, virtual memory, shared libraries, demand loading, shared copy-on-write exexutables, proper memory management dan TCP/IP networking.
Dengan feature sekelas 'real operating system' tersebut tidak membuat Linux menjadi mahal harganya, justru Linux dapat diperoleh secara gratis. Kalaupun ada sedikit charge itu hanya sebagai ongkos distribusi atau pembelian cd belaka.
Linux di distribusikan dibawah GNU General Public License yaitu suatu lisensi dima
kinkan menyebarkan, memodifikasi atau bahkan menjual kembali program tersebut tapi dengan syarat source code asli harus tetap disertakan dalam distribusinya.

Sejarah Islam Di Pekalongan

Pekalongan merupakan salah satu kota penting dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Pulau Jawa. Tidak heran tokoh Islam yang berpengaruh dan dimakamkan di Kota Pekalongan.

SALAH satunya adalah Sayyid Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al Atas beliau adalah seorang Ulama Besar yang semasa hidupnya Sangat berjasa dalam merintis pendirian Pondok Pesantren di Pulau Jawa.
Makam beliau terletak di Jalan Irian Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat. Di Komplek Pemakaman juga terdapat salah satu masjid tertua di Pekalongan bernama Masjid Jami' Aulia yang dibangun pada tahun 1135 H/ 1714 Masehi (abad 16).
Masjid yang mempunyai prasasti bertuliskan huruf arab terbuat dari kayu ada di depan pintu dengan tulisan tahun 1135 Hijriyah, yang menandai pendirian masjid tersebut mem
ang selalu ramai dikunjungi peziarah.
Tidak hanya peziarah lokal, banyak diantara peziarah yang datang dari luar kota bahwa luar pulau dan luar negara. Sebab, disekitar lokasi tersebut terdapat makan habib atau ulama-ulama besar maupun tokoh kerajaan.
Di sekitar masjid juga terlihat banyak kios yang menjajakan asesoris kas Pekalongan, seperti kain dan busana batik, ada pula tempat tempat penginapan yang dibuka warga setempat. Sekilas bangunan masjid tampak sederhana. Namun dipenuhi unsur-unsur artistik.
Seperti adanya bangunan tembok yang berarksitektur timur tengah dengan tiga pintu besar dari kayu. Sedangkan ruang utamanya mengacu tradisi jawa menggunakan empat soko guru yang semuanya menggunakan kayu jati berukuran besar lengkap dengan ompak penyangga dari batu.
Menurut Kiai Dananir, sebagai ketua umum takmir pengelola masjid Aulia, bangunan m
asjid yang tergolong tua di Kota Pekalongan itu, penuh dengan nilai-nilai sejarah penyebaran Islam di daerah pesisir pulau Jawa. Seperti terlihat pada kayu-kayu untuk bangunan masjid Aulia yang berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa Walisongo. Kemudian mimbar untuk khotbah berornamen ukir-ukiran.
Sementara itu, Saifi, sebagai wakil ketua umum Takmir masjid Aulia, menambahkan, bahwa secara umum bangunan fisik masjid yang dulu sempat diberi nama Galuh Rante ini, masih seperti bentuk aslinya. Hanya, pada beberapa bagian ornamen dindingnya, diberi tambahan batu-batuan 'Kroso', yang sebenarnya pada aslinya tidak ada.
Perjalanan sejarah pembangunan Masjid Aulia diawali dari siar agama Islam dari tokoh ulama Bintara Demak melalui pesisir Pantura, masing-masing Kyai Maksum, Kyai Sulaiman, Kyai Lukman dan Nyai Kudung. “Makam para pendiri masjid tersebut, sebagian berada di bawah lantai masjid ini,” ujarnya.
Meski prasasti menyebutkan tahun pendirian masjid, namun tidak ada prasasti yang menyebutkan tentang pembuat masjid tersebut. Kemudian muncul berbagai anggapan bahwa masjid Aulia didirikan oleh syeh dari Hadramaut mengingat tempatnya tidak jauh dari aliran sungai yang dahulu kala sebagai tempat berniaga. Namun perkembangan selanjutnya terjadi sejak tahun 1924, di mana masjid itu dikelola oleh Kyai Elyas diteruskan Kyai Abdul Khalil, Kyai Bakri, Kyai Danuri Ibrahim, K
yai Warmidi dan kini dikelola cucunya Kyai Dananir. Karena didirikan olah kaum Aulia, maka Masjid Sapuro ditambah dengan sebutan Masjid Jami Aulia Sapuro.

Senin, 01 November 2010

Manfaat Surat Yaasiin

1.Apabila orang lapar membaca surah Yassin,ia bole menjadi kenyang.

2.Jika orang tiada pakaian boleh mendapat pakaian.

3.Jika orang belum berkawin akan mendapat jodoh.

4.Jika dalam ketakutan boleh hilang perasaan takut.

5.Jika terpenjara akan dibebaskan.

6.Jika musafir membacanya, akan mendapat kesenangan

apa yang dilihatnya.

7.Jika tersesat boleh sampai ketempat yang

ditujuinya.

8.Jika dibacakan kepada orang
yang telah meninggal dunia,
Allah meringankan siksanya.

9. Jika orang yang dahaga membacanya, hilang rasa
hausnya.

10.Jika dibacakan kepada orang yang sakit,
terhindar dari pada penyakitnya.
11.Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesungguhnya setiap sesuatu
mempunyai hati dan hati Al-Quran
itu ialah Yassin. Barang siapa
membaca surah Yassin, niscaya Allah
menuliskan pahalanya seperti pahala

membaca al-Quran sebanyak 10 kali.

12.Sabda Rasulullah s.a.w lagi,
"Apabila datang ajal orang yang suka

membaca surah Yassin pada setiap hari,
turunlah beberapa malaikat berbaris
bersama Malaikat Maut.
mereka berdoa dan meminta dosanya diampunkan Allah,
menyaksikan ketika mayatnya dimandikan dan ikut
menyolatkan jenazahnya
13.Malaikat Maut tidak mau memaksa mencabut nyawa

orang yang suka membaca Yassin sehingga datang
Malaikat Ridwan dari syurga membawa minuman untuknya.
Ketika dia meminumnya alangkah nikmat perasaannya

dan dimasukkan ke dalam kubur dengan rasa bahagia
dan tidak merasa sakit ketika nyawanya diambil.

14.Rasulullah s.a.w bersabda selanjutnya:
"Siapa bersembahyang sunat dua rakaat pada malam Jumaat,
dibaca pada rakaatpertama surah Yassin dan

rakaat kedua Tabaroka,
Allah jadikan setiap huruf cahaya dihadapannya
pada hari kemudian dan dia akan menerima suratan amalannya
ditangan kanan dan diberi kesempatan membela 70 orang
daripada ahli rumahnya, tetapi barang siapa yang meragui
keterangan ini, dia adalah orang-orang yang munafik.


"Berwasiat-wasiatan-lah dengan kebenaran dan

kebajikan walaupun itu cuma seujung jarimu."

Wollahualam

Sabtu, 23 Oktober 2010

SURAT PEMBUKA DAN PENUTUP AL QUR’AN (OPENING AND CLOSING CHAPTERS OF AL QUR ’AN)

Pada surat pembuka (Al Fatihah) dari Al Qur’an, pertama sekali kita mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Seharusnya, apapun yang akan kita lakukan harus dimulai dengan membesarkan nama Allah SWT. Kemudian, pada surat pembuka dari Al Qur’an ini kita memohon dua hal kepada Allah SWT. Pertama, memohon pertolonganNya dan kedua, agar kita ditunjukiNya jalan yang lurus. Kedua aspek ini sangat utama bagi manusia untuk meraih keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat.

Bilamana seseorang berusaha untuk mencapai kedua hal ini, setan juga melakukan usahanya yang terbaik untuk menggoda. Setan menggoda dalam dua cara. Pertama, dengan membuat rencana dan strategi untuk menjatuhkan hamba Allah SWT yang patuh ini. Kedua, dengan membisikkan pikiran jahat ke dalam hati manusia. Yusuf 5

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."

Dan di dalam Shad 82 - 83

Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka

Allah SWT telah membekali kita dengan alat yang amat ampuh untuk memerangi setan dan pengikutnya dalam bentuk dua surat terakhir di dalam Al Qur’an.

Hafiz Ibnu Al Qayyim RA mengatakan bahwa kedua surat ini mengandung manfaat dan Rahmat yang luar biasa kepada manusia. Kedua surat ini mengusir pengaruh sihir serta gangguan fisik dan mental lainnya. Sebetulnya, manusia membutuhkan perawatan dan pengobatan dari gangguan fisik dan mental ini lebih banyak daripada kebutuhan bernafas, makan, serta pakaian. Bila tidak dibebaskan dari kesusahan ini, kehidupan seseorang akan sangat menderita walaupun segala kesenangan duniawi tersedia untuknya. Bahkan Rasul sendiri pernah terkena pengaruh sihir.

Aisah RA meriwayatkan bahwa seorang munafik mengirim sihir kepada Nabi Muhammad SAW. Akibatnya Muhammad SAW menjadi sakit. Bentuk penyakitnya ini menyebabkan Nabi merasa seolah telah menyelesaikan suatu pekerjaan, padahal hal itu belum dikerjakannya. Jadi hal ini menyebabkan semacam sifat pelupa. Suatu hari, Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Aisyah RA, “Allah SWT telah memberitahuku penyebab penyakit ini”. Beliau menambahkan, “Dua orang mendatangiku di dalam mimpiku. Satu orang duduk di dekat kepalaku dan satu orang di dekat kakiku. Orang yang dekat kepalaku bertanya kepada yang lainnya, ‘penyakit apakah yang mengenai Muhammad SAW?’ Ia menjawab, ’Muhammad SW terkena pengaruh semacam sihir.’ Orang pertama bertanya, ‘Siapa yang melakukan sihir itu?’. Ia menjawab, ‘Labeed bin Asam, seorang munafik yang juga teman orang-orang Yahudi.’ Orang pertama bertanya, ‘Bagaimana cara dia melakukan sihirnya?’. Ia menjawab, ‘Dengan menggunakan sisir berikut geliginya.’ Orang pertama bertanya, ‘Dimanakan sisir ini?’. Ia menjawab, ‘Sisir ini dibungkus suatu pembungkus dan dikubur dibawah batu dalam sebuah sumur. Sumur ini disebut Zarwaan.’”
Nabi Muhammad SAW pergi ke sumur itu dan mengambil sisir tersebut. Muhammad SAW menjadi sembuh kembali. (Bukhari)

Ibnu Katsir menjelaskan dari Imam Thalbi bahwa pada sisir itu terdapat satu benang dengan sebelas buhul. Allah SWT telah membagi kedua surat terakhir dari Al Qur’an itu ke dalam sebelas ayat. Nabi Muhammad SAW telah menguraikan buhul-buhul itu satu persatu setiap selesai mengucapkan satu ayat dari kedua surat terakhir itu. Ketika semua buhul sudah terurai, dia segera merasa terbebas dari penyakitnya.

Imam Malik menerangkan dalam bukunya Muwatta, “Aisah RA meriwayatkan bahwa bila Nabi Muhammad SAW jatuh sakit, dia selalu membaca kedua surat terakhir dari Al Qur’an ini dan sesudah meniup tangannya, dia mengusap badannya dengan kedua tangannya itu. Ketika ia sedang sakit parah menjelang ajalnya, Aisyah RA membaca kedua surat ini dan meniup tangan Nabi. Kemudian Nabi mengusap hampir seluruh badannya dengan tangannya.

Sesunggunya tidak ada sesuatu apapun yang bisa mencelakakan atau menguntungkan seseorang tanpa kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, agar supaya kita selamat dari semua bentuk kejahatan, kita harus berusaha untuk mendapat perlindungan menyeluruh dari Allah SWT. Janganlah kita hanya memohon perlindunganNya saja, tetapi juga harus membuat diri kita calon terbaik untuk memperoleh perlindunganNya dengan melakukan amal perbuatan yang baik. Surat Al Falaq mengajarkan kita cara untuk mendapatkan perlindungan Allah SWT dari kejahatan duniawi. Surat An Nas juga mengajarkan kita cara untuk mendapat perlindungan Allah SWT dari setan yang merusak kehidupan rohani kita.

Di dalam surat Al Falaq kita lihat perlindungan Allah SWT secara spesifik terhadap tiga hal:

(a) Dari kejahatan malam ketika kegelapannya turun. Hal ini karena diwaktu malam jin, setan, binatang buas, serangga, pencuri, dan musuh-musuh mulai beraksi. Sihir juga bekerja lebih efektif di waktu malam. Datangnya fajar menurunkan keampuhan pengaruhnya.

(b) Dari kejahatan tukang sihir ketika mereka meniup pada buhul-buhul. Hal ini sangat merusak karena orang yang berada di bawah pengaruh sihir biasanya tidak menyadari adanya sihir yang dikirim kepada dirinya. Ia terus menerus mencari obat untuk penyakit yang dideritanya.

(c) Dari kejahatan orang yang cemburu. Ada orang yang cemburu terhadap kesuksesan orang lain. Misalnya setan yang cemburu terhadap Adam dan Hawa.

Membaca surat Al Falaq melindungi kita terhadap kejahatan-kejahatan tersebut di atas di dunia ini.
Uqba bin Amar RA meriwayatkan Nabi Muhammad SAW bersabda “Malam ini diturunkan dua surat kepadaku yang tidak ada hal lain yang bisa menandinginya. Yaitu Al Falaq dan An Nas.” (Muslim)

Uqba bin Amar RA meriwayatkan “Muhammad SAW berkata kepadaku di dalam suatu perjalanan, ‘Maukah kamu belajar dua surat yang luar biasa.’ Aku menjawab ‘ya, ajarkanlah padaku.’ Nabi mengajarku surat Al Falaq dan surat An Nas. Ia mengulang surat-surat yang sama ketika shalat Magrib hari itu. Lalu ia berkata kepadaku, ‘Kamu harus membaca kedua surat ini ketika hendak berangkat tidur maupun ketika baru bangun tidur.’” (Thirmidhi, Abu Dawud, & Nasai)

Ibnu Katsir berkata bahwa setan mengikuti setiap orang dan dia selalu mencoba untuk membuat dosa menjadi menarik hati orang tersebut. Bila setan gagal dalam percobaan ini, ia mencoba untuk menimbulkan riya dan kesombongan dalam berbagai bentuk ibadah yang dilakukan seseorang. Setan juga mencoba menanamkan keragu-raguan di dalam pengetahuan para cendekiawan. Oleh karena itu, setan melakukan segala cara untuk merusak rohani seseorang. Hanya Allah SWT yang bisa menyelamatkan kita dari kejahatan setan. Membaca surat An Nas akan memberikan perlindungan Allah SWT.

Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Suatu malam aku sedang berjalan dengan isteriku Saffiya RA. Dua orang Sahabatku berpapasan denganku di perjalanan. Aku hentikan mereka dan kuberitahu bahwa isteriku Saffiya RA bersamaku. Mereka berkata, ‘Ya Rasul, kami tidak mempunyai prasangka buruk apapun di dalam hati kami’. Aku jawab mereka, ‘setan bisa saja memasukkan keraguan kedalam hatimu.’”

Oleh karena itu kita harus selalu membuat persoalan menjadi jelas kepada orang lain agar keraguan tidak terjadi di antara kita. Hal ini bisa mengalahkan setan.

Kedua surat terakhir ini adalah pelindung kita dari setan, dan bisa melindungi kita dari berbagai kejahatan jasmani maupun rohani. Pembukaan maupun penutup Al Qur’an sungguh-sungguh sangat menakjubkan.

Manfaat Hamdalah

Hamdalah merupakan penggalan kata yang selalu kita ucapkan setiap kali kita selesai melakukan sesuatu yang secara lengkap kita membacanya dengan ucapan “Al-hamdulillah” (segala puji hanya milik Allah) atau “Al-hamdulillah rabbil ‘alamin” (segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam). Kata alhamd itu sendiri terdiri dari kata “al” dan “hamd”, yang seringkali diterjemahkan dengan pujian. Yaitu pujian yang ditujukan kepada Allah. Sebuah ungkapan pujian yang hanya diserahkan dan disampaikan kepada Allah SWT.

“Alhamd” (puji) baik secara aktual maupun verbal adalah bentuk dari manifestasi keparipurnaan dan suksesnya suatu tujuan, dari segala yang ada. Sebab Hamdalah itu merupakan bentuk dari pujian pembuka, sekaligus merupakan pujian indah bagi yang berhak mendapatkannya.

Seluruh makhluk di muka bumi ini secara keseluruhan juga memuji Allah SWT bertasbih dan bertahmid. Seluruh keparipumaan muncul dari potensi-potensi menjadi aktual, dan semuanya senantiasa menyucikan dan memuji-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah swt:

“Tak satu pun dari segala yang ada kecuali selalu bertasbih dan memuji-Nya”.

Jagad raya senantiasa memiliki kesadaran darimana awal mulanya, bagaimana penjagaan atas kelestariannya dan pengaturannya, sebagai cermin konotatif dari arti hakiki Rububiyah bagi semesta alam. Yakni bagi segala sesuatu yang terkandung dalam Ilmu Allah. Seperti sebuah tanda bagi yang ditandai. Juga mengandung makna globalitas keselamatan yang penuh karena mengandung arti Ilmu dan sekaligus mengandung makna mengalahkan. Yang terkandung itu juga berarti kebajikan-kebajikan yang umum maupun khusus. Yaitu nikmat lahiriyah maupun nikmat batiniyah. Nikmat lahiriyah seperti kesehatan dan rizki, sedangkan nikmat batiniyah seperti pengetahuan dan ma’rifat.

Maka pujian dengan segala substansinya itu mutlak hanya bagi Allah Ta’ ala, secara azali maupun abadi menurut proporsi hak hamba melalui Dzat-Nya.

Kata al-hamdulillah memiliki dua sisi makna. Pertama, berupa pujian kepada Tuhan dalam bentuk ucapan. Kedua, pujian dalam bentuk perbuatan yang biasa kita sebut dengan syukur. Kedua sisi ini tergabung dalam ucapan al-hamdulillah.

Pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan merupakan anjuran agama setiap kali merasakan anugerah. Itu sebabnya Rasulullah saw. Selalu mengucapkan al-hamdulillah pada setiap kondisi dan situasi. Ketika berpakaian, sesudah makan, ketika akan tidur dan setiap bangun tidur, dan seterusnya dari perbuatan Rasulullah saw yang mengajarkan kita untuk selalu mengucapkan al-hamdulillah dalam setiap kondisi dan situasi.

Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah. Dia akan merasa bahwa Allah tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya mendapatkan cobaan atau merasakan kepahitan dan ujian bahkan musibah sekalipun, maka dia pun akan mengucapkan al-hamdulillah atau segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata. Begitu pun sekiranya ketetapan Allah yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai kurang baik maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya. Pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangan manusia sehingga penilaiannya menjadi demikian. Walhasil “segala puji bagi Allah”. Kata segala ini diterjemahkan dari kata al pada al-hamdu yang oleh ahli bahasa dinamai al-lil istighraq (artikel yang memberi arti mencakup keseluruhan).

Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar merupakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah demikian banyak, sehingga cobaan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.

Kalau kita ingin menelusuri ayat-ayat Allah, maka akan kita temukan ungkapan kata al-hamdulillah di dalam banyak ayat-ayat-Nya, sementara secara khusus, ada beberapa surat yang kata al-hamdu diletakkan di muka ayat; lima surat dalam Al-Quran yang dimulai dengan kata al-hamdu, seperti Al-Fatihah (jika kita sependapat dengan pendapat ulama yang bahwa basmalah bukan bagian dari surat al-fatihah) maka akan ditemukan makna Hamdalah yang begitu dalam menggambarkan akan anugerah Allah yang begitu luas yang dapat dinikmati oleh makhluk, khususnya manusia. Ungkapan ayatnya adalah Alhamdulillah lillah rabbil ‘alamin; pernyataan pujian yang hanya diserahkan kepada Allah yang Maha Esa dan Kuasa, karena telah begitu banyak memberikan anugerah kepada seluruh alam. Adapun pada ayat-ayat lain dapat ditemukan kata-kata alhamdu yang menjadi permulaan ayat pada empat surat lain; masing-masing menggambarkan kelompok nikmat Allah dan merupakan perincian dari kalimat al-hamdulillah pada surat al-fatihah.

Keempat surat yang dimaksud adalah :

1. Surat Al-An’am yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya akan potensi yang terpendam di langit dan di bumi. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang…”

2. Surat Al-Kahfi yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan berupa petunjuk bagi manusia, sebagai nikmat terbesar yaitu kehadiran Al-Quran yang tidak memiliki kebengkokan dan kesalahan; Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya dan tidak membuat kebengkokan (kekurangan) di dalamnya”.

3. Surat Saba yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan yaitu berupa alam dunia dan alam akhirat sehingga manusia dapat menjadikannya sebagai keseimbangan; memperbanyak bekal di alam dunia dan memetiknya nanti di alam akhirat; Allah berfirman: “Segala puij bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bagi-Nya pula pujian di akhirat. Dialah yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

4. Surat Fathir yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas segala nikmatnya yang telah dianugerahkan berupa keabadian sejati nanti di alam akhirat; Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah, pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang mengurus berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat) yang mempunyai sayap -sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat..”

Perbedaan kata hamd (pujian) dengan kata syukur, walaupun keduanya saling memperkaya makna namun pada hakikatnya mempunyai makna yang berbeda. Hamd disampaikan secara lisan kepada yang bersangkutan walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada si pemuja maupun kepada yang lain dan biasanya yang dipuji memiliki syarat yang patut dipuji; indah (baik) diperbuat secara sadar dan tidak karena paksaan. Dengan demikian, maka segala perbuatan Allah terpuji dan segala yang terpuji merupakan perbuatan Allah juga, sehingga segala puji tertuju kepada Allah. Bahkan jika kita memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan itu bersumber dari Allah. Sedang syukur pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan penuh penghormatan akan nikmat yang dianugerahkan oleh yang disyukuri itu, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.

Pada akhirnya kata alhamdu (pujian) merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkan dan selayaknya kata ini diucapkan ketika seseorang ingin melakukan sesuatu, karena sejatinya tidak ada perbuatan yang dilakukan, ucapan yang disuarakan, nafas yang dihembuskan, gerakan dan segala apapun yang diperbuat oleh bagian anggota tubuh manusia karena rahmat dan anugerah dari Allah. Dan kita pun dianjurkan untuk selalu mengucapkan syukur dan tahmid saat melihat orang lain mendapatkan rezki dan anugerah dari SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam do’anya :

“Ya Allah, tidak ada di pagi ini dari kenikmatan yang engkau anugerahkan kepada kami dan kepada siapa pun dari hamba-hambamu hanya dari Engkau belaka, tiada sekutu bagi-Mu dan segala puji dan syukur hanya milik-Mu” []